Samarinda (Madrasah) – Siswa MAN 2 Samarinda mengikuti Lomba Debat Bahasa Inggris (NSDC). Lomba ini bertujuan sebagai seleksi tingkat Kota Samarinda. NSDC diadakan secara daring yang dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Juli 2025.
NSDC dikuti oleh siswa yang berasal dari SMA Asisi, SMAK Sunodia, MAN 2, SMAN 10, SMAN 14, SMAN 1, SMAN 13, SMA CK, SMAN 8, SMAN 3, SMAN 7, SMAK WRS, SMAN 9, SMAN 16, dan SMA IM. Dalam debat harus berpasangan karena ada yang bertindak sebagai tim pemerintah dan ada pula sebagai tim oposisi. Karena hanya 15 sekolah tingkat atas yang mendaftar maka diadakan satu tim yang bersifat suka rela. Tim ini bernama swing team. Swing team hanya bersifat sebagai pengimbang dan tidak berhak keluar sebagai juara.
Sama halnya dengan LDBI, NSDC pun dilaksanakan secara daring selama dua hari. Prosesnya pun sama hanya berbeda ruang dan zoom meeting. Kegiatannya sangat padat, peserta masuk, online check in dan bergabung di zoom. Debat berlangsung dari pukul 07.00 hingga 15.00 dengan empat ronde.
Usai ronde keempat, tim juri yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan debater yang berasal dari Universitas Gunadarma (Gundar), Universitas Gajah Mada (UGM), Monash University, Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Airlangga (Unair), dan debater melakukan rakap nilai dan verifikasi.
Pengumuman NSDC pada Selasa (15/7) menyampaikan bahwa MAN 2 Samarinda sebagai Juara 3 Tim Lomba Debat Bahasa Inggris (NSDC) Tingkat Kota Samarinda. Tim tersebut atas nama Helya Nafsani berasal dari kelas XII-2, Sonia Salma Hasan kelas XI-6, dan Az Zahra Ambar Zarifah dari kelas XI-2.
Suatu kebanggaan MAN 2 Samarinda bisa menjadi juara 3 di antara sekolah umum. Siswa MAN 2 merupakan satu-satunya yang berasal dari madrasah. Sapini selaku Kepala Madrasah mengatakan bahwa anak-anak yang mengikuti NSDC bukan hanya pandai berbahasa Inggris secara aktif, mereka juga harus berwawasan luas. “Kami bangga melihat anak-anak yang ulet. NSDC bukan sekadar debat namun bagaimana mereka berpikir kritis dalam menyampaikan argumen dengan struktur yang baik dan dapat menyanggah dengan logika,” ujarnya.
“Apa yang disampaikan kepala madrasah memang benar. Siswa yang berani mengikuti NSDC harus mampu berbahasa Inggris aktif secara formal dan akademik. Mereka bukan saja menguasai grammar, tetapi harus pula jelas idenya, artikulasi, dan gaya bahasa yang digunakan,“ ungkap Lenny Fauziasih, pembina NSDC.
Di antara ketiga pemenang NSDC tersebut, Sonia Salma Hasan terpilih sebagai Best Speaker dan akan melaju ke seleksi provinsi. (nh)